• Breaking News

    Jurus Menata Kota dengan Big Data


    Big data kerap kali terdengar di telinga, sering dipakai oleh korporasi bidang teknologi. Big data bisa bermanfaat untuk menata kota menuju apa yang disebut sebagai smart city.
    tirto.id - Kota-kota di Indonesia kini berlomba mengemban nama sebagai "kota pintar" atau smart city. DKI Jakarta misalnya, ibu kota negara ini secara tegas mengusung konsep Jakarta Smart City. Laman resmi Jakarta Smart City mempertegas sebuah konsep "pintar" yang mengusung penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai banyak hal lebih efektif dan efisien dalam kehidupan kota.

    Smart city di Jakarta setidaknya diwujudkan dalam empat hal mencakup portal yang membidik untuk memonitor kejadian di dalam kota seperti banjir. Ihwal lainnya adalah aplikasi, yang berguna untuk melibatkan peran aktif masyarakat. Juga ada digitalisasi data, dan kolaborasi dengan pihak lain seperti Google Transit untuk mendukung informasi transportasi.

    Selain Kota Jakarta, beberapa kota lain pun mengikuti langkah yang hampir serupa. Kota Bandung misalnya, Kota Kembang ini sudah meluncurkan aplikasi e-Kelurahan, suatu aplikasi hasil kerja sama dengan Telkomsigma, anak usaha PT Telkom. 

    Aplikasi e-Kelurahan merupakan solusi guna mempermudah pelayanan administrasi kepada masyarakat. e-Kelurahan, merupakan bagian dari konsep smart city ala Kota Bandung. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyebut bahwa smart city bertujuan untuk mempermudah segala urusan melalui pemanfaatan IT.

    Kota lain yang mengusung konsep smart city adalah Kabupaten Pandeglang. Salah satu wilayah di Banten itu mewujudkan smart city dengan melakukan publikasi program pemerintah melalui beragam saluran, antara lain media cetak, elektronik, hingga media sosial. 

    Selain itu, pemerintah tersebut juga merilis aplikasi smartphone bernama Bebeja. Wakil Bupati Pandeglang Tanto Warsono mengatakan bahwa “semua pengaduan akan ditinjaklanjuti” saat warga bisa memanfaatkan saluran smart city ala Pandeglang.

    Bila melihat implementasi konsep smart city di tiga wilayah tadi, akhirnya smart city masih dimaknai berkutat pada aplikasi sebuah layanan. Ibrahim Abaker Targio Hashem, peneliti pada Centre for Mobile Cloud Computing Research, University of Malaya, dalam jurnal berjudul “The Role of Big Data in Smart City” (2016) mengatakan bahwa konsep smart city belum memiliki definisi yang disepakati secara universal. Konsep smart city saat ini hanya berupa tanggapan atas tren global. 

    Konsep smart city kini terfokus pada pemanfaatan teknologi informasi generasi terbaru untuk mendukung kerja-kerja pemerintah seperti memasangkan sensor dan peralatan pada rumah sakit, jaringan kelistrikan, perkeretaapian, jembatan, jalan, dan objek vital lainnya.

    Yanuar Nugroho, Deputi II Kantor Staf Presiden mengatakan bahwa smart city hakikatnya bukan semata-mata aplikasi atau penggunaan teknologi lainnya.

    “Hakikat smart city bukan install komputer tapi menggunakan teknologi untuk makin mendekatkan (masyarakat) dengan pemerintah. Mendekatkan pemerintah (dengan masyarakat),” kata Yanuar dalam sesi tanya jawab di acara Future Force Fair 2018.

    “Teknologi itu alat, esensinya adalah hubungan dengan pemerintah,” katanya.

    Bagi Yanuar, konsep smart city punya manfaat yang positif bagi masyarakat dan kota pada umumnya seperti ekonomi. Ini menurutnya tercipta karena smart city di wilayah itu digunakan sebagai medium inisiatif publik dan keterbukaan pemerintahan.

    Kabupaten ini memang sempat memboyong empat penghargaan Top-IT Award 2017 antara lain Top-IT Implementasi "Open Government dan Smart City", Top-IT Kesiapan transformasi digital, Top-IT Kepemimpinan TIK (Bupati Bojonegoro Suyoto), dan Top-IT Manajer bidang TIK (Kepala Dinas Kominfo). Namun, apakah smart city sampai di situ?

    Selain konsep yang belum ajek, smart city pada dasarnya tak bergerak sendiri. Sebuah konsep yang memerlukan dukungan apa yang disebut sebagai big data.


    Big data dan Sebuah Kota

    Big data, suatu kumpulan data berukuran jumbo yang digunakan untuk menganalisis pola, tren, hingga tingkah laku manusia. Ini merupakan salah satu bagian dari dunia teknologi yang tidak boleh dilupakan dalam aplikasi konsep smart city. 

    Hashem masih dalam dalam jurnalnya mengatakan bahwa keberadaan big data pada konsep smart city akan mampu menciptakan layanan kota yang berbeda. Ini terkait dengan sumber informasi yang lebih besar dan lebih terperinci yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.

    Pemanfaatan big data pada konsep smart city dapat mencontoh apa yang dilakukan sektor swasta bidang teknologi. Yuandra Ismiraldi, Data Engineering Lead Bukalapak, dalam kesempatan Future Force Fair 2018 mengatakan bahwa big data dimanfaatkan salah satunya untuk memberikan rekomendasi produk di Bukalapak. 

    Bila tanpa big data rekomendasi yang diberikan lebih pasif, alias lebih ditentukan kesamaan produk yang sedang dilihat pengguna. Dengan memanfaatkan big data, rekomendasi telah berubah bentuk menjadi lebih personal, fokus pada tingkah laku para pengguna Bukalapak. Sehingga pengunjung bisa ditata agar bisa mencapai tujuan perusahaan.

    Selain itu, Bukalapak juga memanfaatkan big data untuk menganalisa e-mail yang masuk. Big data dikatakan dapat mendeteksi skala prioritas e-mail. Hasilnya, meningkatkan resolusi berbasis e-mail di Bukalapak hingga 600 persen.

    Menurut Yuandar, kekuatan itu tercipta atas analisis “miliaran data poin dari interaksi (pengguna Bukalapak).”

    Bukalapak telah memperkerjakan lebih dari 40 ahli di bidang data dan kecerdasan buatan. Mereka memperkirakan akan memproses lebih dari 1,5 petabytes data, terdiri atas data transaksi, produk, dan gambar hingga akhir tahun ini. Secara umum, big data pada Bukalapak digunakan untuk reporting, visualitation, analitics, support system, dan AI models.

    Pemanfaatan big data seperti yang diterapkan Bukalapak bisa diterapkan pada smart city. Ini akan lebih mengubah  paradigma baru bagi smart city yang selama ini menjadi kebanggaan bagi kepala daerah.

    Salah satu kota yang sukses memanfaatkan big ada adalah London. Ini terutama untuk meningkatkan sistem transportasi mereka. Transport for London (TfL) merupakan sistem transportasi kota yang menyatukan beragam jaringan, mulai dari jalan, bus, kereta, taksi, hingga kapal feri. Dengan populasi yang diperkirakan akan meningkat menjadi 10 juta jiwa dalam beberapa tahun mendatang, London memang mau tak mau harus melakukannya.

    London, memulai mempelajari bagaimana warga kotanya memanfaatkan transportasi sejak sekitar 10 tahun lalu. Ini berawal dari kartu prabayar bepergian bernama Oyster. Ketika pengguna transportasi London menggunakan kartu ini untuk melakukan tapping pada beragam stasiun atau halte bus, data kemudian dikumpulkan otoritas London. Dari sanalah, pemerintah kota itu tahu bagaimana warganya bepergian memanfaatkan transportasi publik.

    Selain London, kota lain yang kini tengah mempersiapkan diri untuk lebih memanfaatkan big data adalah Singapura. Melalui big data, Singapura ingin menyajikan transportasi yang lebih pintar dan lebih ramah lingkungan. Mereka tengah mempersiapkan pembaruan pada sistem lalu-lintas yang memungkinkan pengguna jalan memilih laju tercepat saat menuju suatu lokasi. Pada 2022 mendatang, Singapura kemudian akan menerapkan Electronic Road Pricing System (ERP).

    Penggunaan big data pada kota-kota seperti London maupun Singapura, patut diterapkan juga di Indonesia. Big data sangat memungkinkan bisa menata kota termasuk kota-kota yang selama ini mengklaim sebagai smart city.

    Sumber:
    https://tirto.id/jurus-menata-kota-dengan-big-data-cDrU

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad