• Breaking News

    IoT Penentu Wujudkan Making Indonesia 4.0

    IoT Penentu Wujudkan Making Indonesia 4.0


    Sumber: Investor Daily (28/11/2018)
    JAKARTA – Teknologi internet of thing (IoT) diyakini jadi penentu dalam mewujudkan Making Indonesia 4.0 dan memasuki era revolusi Industri 4.0. IoT merupakan sebuah konsep di mana suatu objek memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia, atau manusia ke komputer. Penerapannya pada industri bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan (revenue).
    Pemerintah pun telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi Industri 4.0. Peta jalan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ini menjadi strategi dan arah yang jelas dalam pengembangan industri nasional yang diharapkan berdaya saing global.
    Sementara itu, implementasi Industri 4.0 sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur serta teknologi informasi dan komunikasi, antara lain IoT, big data, komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (artificial intellegence), mobility, realitas maya (virtual reality), realitas tertambah (augmented reality), serta sistem sensor dan automasi.
    Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto mengatakan, IoT akan menjadi salah satu tulang punggung (backbone) dari adopsi dalam revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Karena itu, sejak dua tahun lalu, pihaknya bersama Indonesia IoT Forum telah mendorong adanya regulasi untuk mengantisipasi The Next Big Thing di industri telekomunikasi Tanah Air.
    “Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan sejumlah regulasi yang akan membuat IoT semakin besar di Indonesia,” ujar Doni, dalam Diskusi Tahunan IoT for Making Indonesia 4.0 dalam rangka HUT ke-7 IndoTelko.com di Jakarta, Selasa (27/11).
    Menurut dia, IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas yang memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet, serta punya kemampuan mengumpulkan dan bertukar data.
    “Isu krusial dalam adopsi IoT nanti terkait konektivitas, data security, interprobilitas, dan lainnya. Saya harapkan, draf Peraturan Menteri (Permen) untuk Spektrum Frekuensi dan Standarisasi Perangkat IoT bisa disahkan tahun ini agar pelaku di industri ada kepastian hukum mengembangkan bisnisnya,” ucap Doni.
    Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemenkominfo Ismail menyatakan instansinya siap mendukung para pelaku industri untuk menciptakan ekosistem IoT dengan payung hukum yang kuat.
    “Terkait regulasi, harus ada payung hukum dalam pengembangan IoT. Kalau misalnya undang-undang terlalu berat maka perlu peraturan pemerintah untuk memayungi para pelaku industri yang ingin bertransformasi ke 4.0. Kami di Kemenkominfo menyatakan kalau tidak bisa membantu, maka jangan jadi pengganggu,” ungkap Ismail.
    Menurut dia, pemerintah akan mengambil inisiatif dalam pengembangan ekosistem dan bisnis model IoT di Indonesia. Apalagi, IoT tidak cukup hanya terkait dengan keterhubungan (connectivity), tetapi juga ekosistem dan business model-nya, sehingga bisa menciptakan efisiensi dan mendongkrak pendapatan (revenue) bagi lebih banyak pelaku industri yang mau melakukan digitalisasi.
    Peran Pemerintah
    Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin Achmad Rodjih Almanshoer menambahkan, pencanangan Indonesia 4.0 sebagai program nasional dan mendapatkan dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak lepas dari inisiatif Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
    “Kalau di Jerman Barat, inisiator 4.0 adalah pelaku industri. Sementara, di Indonesia, pemerintah harus berinisiatif demi meningkatkan daya saing industri nasional. Sebagai inisiator, Kemenperin akan membuka delapan pusat pengembangan SDM terkait digitalisasi industri ini di seluruh Indonesia, di mana salah satunya adalah mengajarkan soal IoT,” katanya.
    GM IoT Smart Connectivity Telkomsel Alfian Manullang menuturkan, perusahaannya merupakan IoT hub terbesar di Indonesia saat ini. Telkomsel menjalankan fungsi sebagai enabler yang melayani berbagai kebutuhan digitalisasi industri di Indonesia.
    “IoT itu targetnya saving cost dan generate revenue. Balik lagi ke intinya, objek apa yang mau dicapai suatu perusahaan dari IoT. Nah, total solution itu yang kita berikan ke customer. Karena, menurut kami, IoT ini masih baru di Indonesia dan kolaborasi itu sesuatu yang penting dalam pengembangannya,” ucap Alfian.
    Di sisi lain, Teguh Prasetya, founder IoT Forum, mengatakan, IoT sebenarnya sudah menjadi internet of everything dalam berbagai lini perekonomian di Indonesia. Bahkan, dia memperkirakan, pada 2025, sekitar 70% alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan disokong oleh industri berbasis IoT.
    sumber: http://www.kemenperin.go.id/artikel/19954/IoT-Penentu-Wujudkan-Making-Indonesia-4.0

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad