• Breaking News

    Tantangan Indonesia Masuk Dalam Industri 4.0 Serba Digital

    ArenaLTE.com - Kembali pada tahun 2014, Singapura, Malaysia, dan Thailand adalah beberapa Negara yang termasuk sebagai produsen terkemuka di Asia Tenggara. Vietnam, Filipina, dan Indonesia masih terhitung sebagai Negara dalam fase baru. Statistik terbaru yang telah saya eksplorasi baru-baru ini, mengungkapkan bahwa manufaktur di kawasan Asia Tenggara perlahan-lahan menemukan momentumnya terutama pada ketiga negara tersebut.

    Sektor manufaktur bukan lagi hal yang asing di antara seluruh mekanisme yang menggunakan peran teknologi. Kita lihat dari beberapa transformasi revolusi yang telah dilalui mulai dari kehadiran mesin uap, listrik hingga komputerisasi, teknologi dalam industri kini telah membuat perkembangan di dunia lebih canggih dan efisien.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir telah terbantu oleh kehadiran revolusi, baik dari segi kualitas maupun efisiensi waktu. Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mengetahui tentang transformasi saat ini sedang di depan mata, yaitu "Industri 4.0". Dijuluki sebagai "Revolusi Industri Keempat", era otomatisasi dan interkonektivitas saat ini sedang menuju puncaknya.

    Industri 4.0 adalah tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Ini termasuk sistem cyber-physical, Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. Era ini pada dasarnya telah diperkenalkan di Jerman sejak 2011. Beberapa teknologi utama yang mendukung implementasi Industri 4.0 adalah Intelegensi Buatan, Human Machine Interface, IoT, robot, dan juga teknologi 3D.

    Di Indonesia, Industri 4.0 sering disebut juga sebagai "Making Indonesia 4.0". Istilah ini sebenarnya mengandung makna sangat positif dan dapat memicu perkembangan Indonesia serta merevitalisasi industri nasional secara keseluruhan, baik dari keseluruhan pihak mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Selain Thailand dan Vietnam, Indonesia juga memiliki optimisme yang signifikan terhadap prospek Industri 4.0, terutama di sektor ekonomi berbasis manufaktur.

    Saya dapat memahami bahwa optimisme semacam ini juga diiringi dengan sedikit kecemasan. Misalnya, seperti dengan sebuah pertanyaan singkat mengenai bagaimana negara-negara kepulauan seperti Indonesia berjuang untuk menangani Industri 4.0 secara merata? Faktanya adalah, ketimpangan infrastruktur tidak hanya dialami oleh negara-negara kepulauan, bahkan negara-negara seperti Jerman merasa kesulitan untuk menyediakan infrastruktur digital secara merata ke semua bagian negaranya.

    Betul adanya, bahwa terdapat banyak hal yang mampu dieksplorasi oleh Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0 untuk pembangunan nasional yang lebih baik. Misalnya, memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui teknologi dengan fasilitas platform e-commerce, kemudian memajukan jaringan internet berkecepatan tinggi, pusat data cloud, manajemen keamanan dan infrastruktur broadband untuk mendukung pengembangan infrastruktur digital nasional. Namun selain itu, satu pilar penting dari perjalanan Indonesia menuju Industri 4.0 lainnya adalah keamanan ICS.

    Situasi keamanan ICS di Indonesia

    Laporan Kaspersky ICS CERT terbaru kami tentang lansekap ancaman industri di H2 2018 menunjukkan bahwa Asia Tenggara ternyata menjadi wilayah kedua dengan infeksi terbanyak yang dicegah oleh Kaspersky, dan Indonesia berada di peringkat keenam dunia di dunia. Dengan persentasi sebesar 43,2% dari komputer ICS yang infeksi-nya telah diblokir selama enam bulan terakhir pada tahun 2018.

    Aktivitas siber berbahaya pada komputer ICS dianggap sebagai ancaman yang sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan kerugian materi dan penghentian produksi dalam pengoperasian fasilitas industri. Serangan yang telah Kaspersky hadang membuktikan bahwa kehadiran internet di infrastruktur perusahaan ternyata menjadi peluang emas bagi pelaku kejahatan siber untuk melakukan aksi mereka. Namun, fakta bahwa serangan tersebut berhasil adalah karena kurangnya kemampuan keamanan siber di antara karyawan, yang seharusnya dapat dicegah dengan pelatihan dan kesadaran tinggi dari staf itu sendiri. Pencegahan ini bahkan lebih mudah daripada mencoba menghentikan aksi para pelaku kehajatan siber.


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad