• Breaking News

    AI Berikan Manfaat Lebih Bagi Bisnis dan Pemerintahan


    Jakarta, Biskom- Implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya menghasillkan keuntungan bagi perusahaan. Namun, ini dapat menghemat biaya operasional perusahaan.
    Intenational Data Corporation (IDC) memperkirakan sebanyak US$35,8 miliar akan diinvestasikan kalangan industri secara global pada 2019 bagi penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
    Angka ini naik 44% dibandingkan 2018 yang akan terus bertambah menjadi US$79,2 miliar pada 2022. Dari nilai US$35,8 miliar sebesar US$5,9 miliar untuk penerapan teknologi solusi dilakukan industri-industri ritel dan US$5,6 miliar oleh sektor perbankan.
    Laporan McKinsey Global Institute yang bertajuk Notes from the AI Frontier: Applications and Value of Deep Learning pada 2018 menyebutkan adopsi AI dapat meningkatkan profit sharing dunia bisnis global.
    Kenaikan ini diperoleh berbagai sektor yakni sektor pendidikan sebesar 84%, layanan akomodasi dan makanan sebesar 74%. Kemudian, sektor konstruksi sebesar 71%, wholesale dan ritel sebesar 59%, dan sektor kesehatan sebesar 55%.
    Untuk industri manufaktur dapat menghemat biaya inventaris sebesar 20%-50%, mengurangi potensi kesalahan prediksi rantai suplai sebesar 50%, dan biaya logistik 5%-10%.
    Sementara itu AI juga diterapkan oleh sektor pemerintahan seperti Badan Proyek Riset Tingkat Lanjutan Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Defense Advanced Research Project Agency (DARFA).
    Kebijakan ini ditempuh guna menciptakan persenjataan baru yang dinamakan ‘Micro Brain’. Ini akan didasarkan kemampuan yang dimiliki serangga yakni sistem sensorik dan saraf yang sangat terintegrasi serta lebih kecil, lebih ringan, lebih hemat daya.
    DARFA akan memberikan US$1 juta bagi peneliti yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Kemudian, dia akan diberikan kesempatan selama 18 bulan untuk merealisasikannnya.
    Penyematan teknologi AI yang dapat digunakan memesan tiket bioskop termasuk posisi tempat duduk oleh pengguna telepon selular (ponsel) pintar melalui suaranya telah dikhayalkan seseorang.
    Dia adalah Hongxia Jin, Senior Director Samsung AI Research Center America yang menyebut ini sebagai ‘Generalizing AI for Everybody’. Pusat riset ini sedang mengembangkan kebiasaan pengguna ponsel pintar dalam memesan tiket termasuk letak tempat duduknya.
    AI telah digunakan sebuah toko bernama Yokohama di Jepang mulai Desember 2018 melalui suatu aplikasi bernama ‘Vaak Eye’. Aplikasi ini dibesut oleh sebuah perusahaan rintisan bernama Vaak.
    Vaak Eye bisa mendeteksi kemungkinan aksi pencurian yang akan dilakukan oleh seorang pengutil melalui kamera Closed Circuit Television (CCTV) dengan 100 karakteristik. Kamera ini bisa mendeteksi wajah, pakaian, dan gerakan seseorang yang diduga akan melakukan pencurian.
    Bahkan, seorang berumur 80 tahun tertangkap basah mengambil sebuah topi dapat diketahui dari penggunaan Vaak Eye.
    Soal deteksi wajah juga sedang dikembangkan perusahaan rintisan asal Indonesia Nodeflux dengan Intelligent Video Analytics (IVA) untuk Dinas Kependudukan dab Pencatatan Sipil (Dukcapil) dan Kepolisian Daerah (Polda).
    Dari hal tadi diharapkan dapat membantu pengambilan keputusan atas persoalan kemacetan, menghitung dan mendeteksi kendaraan secara akurat.
    Itu didasarkan kemampuan IVA dalam melakukan interpretasi visual seperti mengenali identitas manusia, mendeteksi dan mengklasifikasikan tipe objek.
    Hal lainnya adalah mendeteksi plat kendaraan, melihat tingkat kepadatan objek pada area tertentu, sampai menganalisa perilaku dari kerumunan orang di ranah publik.
    ”Kami bisa bersaing dengan negara-negara maju produsen AI, seperti Tiongkok, Israel, Inggris, dan Amerika Serikat,” ucap Meidy Fitranto, CEO Nodeflux.
    Sebelumnya, Nodeflux dilibatkan pemerintah dalam penyelenggaran Asian Games 2018 di Jakarta, DKI Jakarta dan Palembang, Sumatera Selatan.
    Perusahan ini bersama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menangani persoalan keamanan dalam ajang tadi. Kemudian, ini berlanjut ke IMF-World Bank Annual Meeting 2018 di Bali.
    Malahan Nodeflux memamerkan teknologi face recognition berupa wajah seorang pengunjung ke 60 karakter wayang orang. Hal ini berlangsung pada acara South by Southwest (SXSW) di Texas, AS pada Maret 2019. (red/Ade)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad