Konsep Smart City Sebagai Solusi Masalah di Perkotaan


Salah satu permasalahan yang sedang di hadapi kawasan perkotaan adalah meningkatnya urbanisasi. Urbanisasi merupakan perpindahan dari luar kota/desa ke kota, hingga menyebabkan populasi masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Bukan hanya permasalahan populasi saja, namun juga meningkatnya sampah, munculnya kawasan kumuh, angka kriminalitas naik, dan lainnya dapat diawali dengan fenomena urbanisasi. Salah satu untuk mengatasi permasalahan urbanisasi yang ada di kawasan perkotaan adalah dengan menerapkan konsep smart city.

Menurut Cardullo dan Kitchin, mereka mendefinisikan smart city sebagai kota pintar dengan konsep desain yang menguntungkan komunitas, terutama dalam memanfaatkan sumber daya yang ada agar efisien dan efektif (Iqbal, 2021). Adanya smart city ini dapat lebih meningkatkan kualitas hidup dan tempat bagi masyarakat dan juga ekosistem kota. Di Indonesia, gerakan smart city sudah mulai diterapkan, diinisiasi oleh pemerintah untuk menyelenggarakan Gerakan Menuju 100 Smart City.

Terdapat enam pilar untuk membangun smart city, yaitu smart governance, smart society, smart living, smart economy, smart environment, dan smart branding. Enam pilar ini dijelaskan lebih detail lagi melalui diagram Cohen (Petunjuk Mewujudkan Smart City Menurut Diagram Cohen, 2017), yaitu:

  1. Smart economy meliputi even internasional, pembangunan dan penelitian, serta perkembangan startup
  2. Smart governance terkait dengan keterbukaan dan kemudahan akses data-data pemerintahan oleh publik, ketersediaan sarana internet (wi-fi), dan sumber daya manusia di perkotaan.
  3. Smart people/ society, yang terkait pada pilar ini yaitu pendidikan, integrasi masyarakat.
  4. Smart living, berkaitan dengan lingkungan hidup yang sehat, keamanan masyarakat, serta kebahagiaan yang terjamin, dan rasio ketimpangan pendapatan.
  5. Smart mobility, berkaitan dengan transportasi yang digunakan oleh masyarakat, seharusnya menggunakan energi yang ramah lingkungan, penggunaan transportasi umum, dan ketepatan waktu dari akses transportasi.
  6. Smart environment, pilar ini berkaitan dengan RTH per kapita, carbon footprint, dan pengelolaan sampah yang bijak.

Namun, dalam penerapan smart city nyata tidak semudah itu. terdapat beberapa tantangan, yang dapat menghambat implementasi dari smart city suatu daerah. Salah satu tantangan yang ada adalah pemerintah daerah yang terjebak rutininas, dimana pemerintah masih belum atau tidak menyisihkan APBD untuk smart city. Selanjutnya masih banyaknya anggapan jika smart city ini berkaitan dengan proyek TIK, yang seharusnya merupakan proyek perubahan budaya kerja yang membutuhkan anggaran cukup besar. Kapasitas SDM teknis yang ada juga masih rendah. Selain itu, infrastruktur yang belum merata juga menjadi tantangan dalam menerapkan smart city. Terakhir, masih banyak pemimpin daerah yang kurang berkomitmen.

Dengan menerapkan konsep smart city, terdapat keuntungan yang didapatkan oleh daerah tersebut. Menurut Stephen Ezell (Wakil Presiden Global Innovation Policy Information Technology and Innovation Foundation), terdapat lima kegunaan dari konsep smart city. Lima kegunaannya adalah :

  1. Menciptakan perencanaan dan pengembangan kota layak huni yang lebih baik di masa depan
  2. Meningkatkan produktivitas daerah atau daya saing ekonomi;
  3. Membuat sistem ekonomi menjadi lebih efisien dan terintegrasi;
  4. Menciptakan rumah dan bangunan yang ramah lingkungan dan memakai sumber energi keterbarukan
  5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah.

Salah satu contoh penerapan smart city yang berhasil adalah Kota Bandung. Kota Bandung berhasil menempati urutan 50 besar jajaran Pemerintahan Kota Pintar dunia berdasarkan hasil studi Eden Strategy Institute Singapura (Tercerdas Di Indonesia, Kota Bandung Masuk 50 Besar Smart City Dunia, 2021). Hal ini dapat terwujud karena peran dari pemerintah kota yang menjadi pendorong utama.

Melakukan penerapan smart city di suatu daerah, dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan yang ada di wilayah perkotaan. Penerapan smart city juga bukan hanya berfokus pada upaya peningkatan teknologi dan informasi saja, melain peningkatkan dari berbagai aspek. Oleh karena itu, dengan adanya smart city, pengembangan dan pembangunan di suatu daerah dapat lebih efisien dan efektif, baik untuk masyarakat, pemerintah, bahkan lingkungan yang ada. Butuh adanya komitmen baik dari pemerintah kota sebagai pembuat kebijakan dan masyarakat sebagai pihak yang terlibat untuk saling bekerja sama mewujudkan smart city di kotanya.

Posting Komentar

0 Komentar