Dirut Telkom Sebut Harga Data Seluler RI Termurah ke-2 di Dunia

 

Direktur utama PT Telkom Indonesia, Ririek Adriansyah, menyebutkan Indonesia menjadi negara kedua dengan harga data seluler termurah di dunia yaitu dengan harga USD 0,3 per GB.

Ririek menuturkan, bisnis layanan seluler ini lebih menarik jika dibandingkan bisnis fixed broadband atau WiFi yang semakin menantang ke depannya dan dapat menekan keuntungan perusahaan.
"Khusus di bisnis seluler mungkin yang paling menarik itu menunjukkan harga layanan seluler di Indonesia sebenarnya menjadi salah satu yang termurah mungkin nomor dua atau tiga di dunia, dibandingkan beberapa negara lainnya," katanya saat rapat dengan Komisi VI DPR, Senin (3/4).
Dalam data yang dia tampilkan, Indonesia berada di peringkat kedua setelah India yang memiliki harga data seluler USD 0,1 per 1 GB. Posisi Indonesia diikuti oleh Filipina dengan USD 0,4 per 1 GB, Thailand dengan USD 0,5 per 1 GB, CHina dengan USD 0,7 per 1 GB.
Kemudian Mesir dengan harga USD 1 per 1 GB, Nigeria dengan USD 1,1 per 1 GB, Brasil dengan harga USD 1,6 per 1 GB, hingga layanan seluler di Afrika Selatan yang dibanderol USD 1,7 per 1 GB.
"Ini juga semakin menantang bagi kita bagaimana kita harus lebih efisien lagi agar kita bisa mempertahankan profitabilitas dari perusahaan," tutur Ririek.
Kiri ke kanan: Dirut Telkom Ririek Adriansyah, Wamen BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, dan CEO Singtel Yuen Kwan Moon di acara groundbreaking data center di Batam, Rabu (21/12). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kiri ke kanan: Dirut Telkom Ririek Adriansyah, Wamen BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, dan CEO Singtel Yuen Kwan Moon di acara groundbreaking data center di Batam, Rabu (21/12). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
Di sisi lain, Ririek mengatakan bisnis fixed broadband di Indonesia, termasuk Telkom dengan produknya Indihome, menghadapi situasi yang menantang di mana harga broadband semakin turun sementara pemakaian semakin tumbuh sehingga butuh investasi dan belanja modal (capex).
"Margin pun tertekan, sehingga operator perlu melakukan berbagai hal salah satunya bagaimana kita bisa efisiensi biaya investasi atau capex dan biaya operasi atau opex," jelas dia.
Dia menambahkan, terjadi perlambatan pertumbuhan pengguna fixed broadband. Khusus di Indihome sendiri, saat ini jumlah perangkat yang tersambung rata-rata 150 juta per hari dengan total pelanggan 9 juta orang.
Meski demikian, kata Ririek, saat ini baru sekitar 15 persen rumah di Indonesia yang sudah dilayani fiber optik atau home broadband, yakni sekitar 65-70 juta rumah.
"Perbandingan berbagai negara, Indonesia masih 14 persen penetrasinya masih cukup rendah dari berbagai negara lain, secara geografis tidak mudah bisa menggelar broadband untuk fiber optik," sambungnya.

Posting Komentar

0 Komentar