Digitalisasi Bisnis Farmasi: Adaptasi atau Mati

 

"Yang tetap dan abadi hanyalah perubahan itu sendiri," begitu kata Heraclitus, filsuf Yunani kuno. Ungkapan ini kian relevan dalam konteks bisnis farmasi yang tengah berhadapan dengan revolusi digital. Bagi industri ini, pilihan yang ada hanyalah dua: adaptasi atau mati.

Menurut laporan The Global Use of Medicine in 2019 and Outlook to 2023, pasar farmasi global diharapkan tumbuh mencapai USD 1,5 triliun pada 2023. Namun, potensi ini akan sulit direalisasikan jika industri farmasi tidak memanfaatkan momentum digitalisasi yang sedang berlangsung.
Tradisionalnya, industri farmasi dianggap lamban dalam merespons perubahan teknologi. Selama ini, tantangan terbesar digitalisasi bukanlah persoalan teknis, tetapi lebih kepada perubahan budaya kerja dan pola pikir. Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif dan volatile, perubahan adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat bagaimana teknologi digital merubah sektor-sektor lain seperti ritel, transportasi, dan hiburan. Mengutip Bill Gates, "Kita selalu overestimasi perubahan yang akan terjadi dalam dua tahun ke depan dan meremehkan perubahan dalam sepuluh tahun ke depan." Sekarang, giliran industri farmasi yang tengah berada di ambang transformasi besar.
Pandemi COVID-19 telah menjadi katalis yang mempercepat digitalisasi di berbagai sektor, termasuk farmasi. Menurut studi dari McKinsey & Company, pandemi telah mempercepat adopsi digital di sektor kesehatan hingga lima tahun ke depan. Kebutuhan akan layanan kesehatan jarak jauh, telemedicine, dan pengiriman obat ke rumah menjadi solusi dalam kondisi pembatasan sosial.
Namun, transformasi digital bukanlah suatu proses yang instan. Ini membutuhkan visi jangka panjang, investasi yang signifikan, dan tentu saja, kemauan untuk berubah. Tidak ada pilihan lain untuk industri farmasi selain beradaptasi dan memanfaatkan teknologi digital.
Seperti yang ditegaskan oleh Charles Darwin, "Bukan spesies yang paling kuat yang akan bertahan hidup, juga bukan yang paling cerdas, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan." Jadi, pertanyaan sebenarnya bukan apakah industri farmasi siap untuk beradaptasi, tetapi apakah mereka mau.
Di dunia bisnis, stagnasi berarti kemunduran. Untuk terus maju, perusahaan farmasi perlu merangkul perubahan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Mengingat pentingnya industri farmasi dalam masyarakat, kita semua berharap mereka akan memilih untuk beradaptasi, bukan mati.
Memasuki era digital, perusahaan farmasi harus bersiap untuk menghadapi tren baru, seperti big data, artificial intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT). Sebuah studi dari International Data Corporation (IDC) memprediksi bahwa pada 2025, data dunia akan mencapai 175 zettabyte, naik dari 33 zettabyte pada 2018. Dalam konteks farmasi, ini berarti peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan keakuratan dalam penelitian dan pengembangan obat, pemasaran, hingga penjualan.
AI dan machine learning juga menjanjikan manfaat besar dalam penemuan dan pengembangan obat baru. Menurut sebuah studi di Nature, AI telah berhasil memprediksi struktur protein dengan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, potensi yang dapat mempercepat proses penemuan obat.
Disamping itu, IoT memungkinkan konektivitas yang lebih baik antara pasien dan penyedia layanan kesehatan. Alat-alat kesehatan yang terkoneksi internet, seperti jam tangan pintar dan sensor jarak jauh, bisa membantu pemantauan kondisi kesehatan pasien secara real-time dan memberikan intervensi lebih cepat jika dibutuhkan.
Dalam kata-kata Steve Jobs, "Inovasi adalah apa yang membedakan pemimpin dan pengikut." Sudah saatnya industri farmasi menjadi pemimpin dalam revolusi digital ini. Memang, perjalanan menuju digitalisasi penuh dengan tantangan. Namun, bila dikelola dengan baik, tantangan tersebut dapat berubah menjadi peluang.
Digitalisasi bisnis farmasi bukan lagi opsi - itu adalah keharusan. Selain membuka peluang baru, digitalisasi juga dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan kesejahteraan pasien. Jadi, untuk para pemangku keputusan di industri farmasi, pesannya adalah: adaptasi atau mati. Ada masa depan yang cerah menunggu bagi mereka yang berani beradaptasi dan berinovasi. Tetapi bagi yang memilih untuk tetap pada cara lama, mereka mungkin akan menemui jalan yang sulit.

Posting Komentar

0 Komentar