Monetisasi 5G dan IoT Membuka Keran Sumber Pendapatan Baru Telko

 

Di tengah lanskap bisnis yang makin kompetitif, perusahaan telekomunikasi kini sedang berusaha mencari sumber pendapatan dan pendekatan bisnis yang baru agar tetap kompetitif.

Perusahaan telko tak bisa hanya mengandalkan jaringan, tetapi mengoptimalkan jaringannya untuk memberikan layanan digital, mengurangi risiko fraud dan ancaman siber. 

Sejak hadirnya 5G, salah satu tantangan perusahaan telko adalah bagaimana memonetisasi teknologi ini. Data menunjukkan, perusahaan telko secara global telah menginvestasikan lebih dari US$1,5 triliun untuk 5G dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih ada pertanyaan bagaimana perusahaan telko memonetisasi investasi ini baik dari perspektif B2B maupun B2C.

Dengan berbagai inisiatif transformasi digital, serta munculnya teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI)/machine learning (ML), augmented dan virtual reality (AR/VR), robot canggih, drone, kendaraan tanpa awak, digital twins, dan lainnya, peluang untuk memonetisasi 5G makin terbuka lebar. 

Berbagai contoh kasus baru itu membutuhkan konektivitas dengan kapasitas lebih besar dan latensi yang rendah. Enterprise bisa mendapatkan sejumlah manfaat dari implementasi jaringan private 5G. Salah satu yang menarik adalah IoT.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pernah mengungkapkan bahwa jumlah perangkat IoT sudah mencapai 400 juta pada 2022 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 678 juta perangkat pada 2025 berkat teknologi 5G. 

Perusahaan telko memiliki aset unik yang bisa mereka manfaatkan untuk memungkinkan lahirnya contoh-contoh kasus penggunaan baru IoT untuk enterprise. 

“Seperti kita ketahui, sekarang makin banyak enterprise yang menggelar endpoint IoT di seluruh fasilitas, kampus dan aset jarak jauh mereka. Industri ini bergerak untuk menghubungkan semua endpoint tersebut di dalam jaringan private 5G dengan beberapa contoh kasus yang dimungkinkan di edge, dan beberapa melalui konektivitas cloud (pribadi atau publik). Telko dapat menawarkan managed service untuk mengelola orkestrasi layanan dan manajemen endpoint itu,” kata Erwin Sukiato, Country Manager Cloudera Indonesia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (3/7/2023).

Masalahnya, jangkauan jaringan telekomunikasi di Indonesia masih menyisakan banyak area blank spot. Tahun lalu, menurut catatan Kementerian Kominfo, lebih dari 12 ribu desa belum tersentuh jaringan 4G. Walau begitu, Erwin yakin pemerintah dan operator di Indonesia akan berupaya untuk meningkatkan penetrasi dan pemerataan konektivitas di Indonesia, baik untuk 4G dan 5G. 

Erwin mengatakan ini selaras dengan ambisi Indonesia untuk menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Laporan eConomy SEA 2022 menunjukkan bahwa pertumbuhan GMV sebesar 22% YoY, nilai ekonomi digital Indonesia US$77 miliar di tahun 2022 dan akan mencapai US$130 miliar di tahun 2025, dengan e-commerce sebagai pendorong utamanya. 

“Dengan tren seperti itu, tentu saja, inilah waktunya bagi operator telko di Indonesia untuk menawarkan lebih banyak layanan digital, seperti yang sudah dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi terdepan di dunia. Ada bukti berupa sejumlah gerakan di seluruh dunia. Perusahaan telekomunikasi sudah membuat gerakan di area-area seperti multi-access edge computing (MEC), layanan keuangan, 5G pribadi untuk perusahaan enterprise, drone, IoT dan bahkan Metaverse,” ucap Erwin.

“Dengan menawarkan lebih banyak layanan digital, perusahaan telekomunikasi di Indonesia tidak hanya akan menemukan aliran pendapatan baru dan pendekatan bisnis baru, industri telko Indonesia akan memainkan peran penting dalam mendorong ekonomi digital nasional,” imbuhnya.

Masih ada satu lagi tantangan dalam penawaran layanan digital baru bagi telko, yaitu maraknya penipuan dalam jaringan telko. Jika tidak ditangani, akan menghambat telko dalam usaha memonetisasi jaringan mereka. Untuk memitigasi masalah ini, telko bisa berinvestasi dalam Big Data dan analitik.

Dengan volume besar data konsumen berupa catatan data panggilan (CDR), konsumsi data dan informasi penagihan, serta data yang terkait dengan jaringan, mulai dari telemetri hingga ke parameter, jika dianalisa dengan baik bisa digunakan untuk secara efektif memitigasi penipuan. 

Erwin mengatakan, perusahaan telko bisa memanfaatkan solusi Cloudera Data Platform (CDP), yang sudah digunakan oleh sebagian besar perusahaan telko terdepan di dunia. CDP menggabungkan banyak elemen arsitektur data modern, termasuk dukungan untuk data lakehouses, data fabric dan data mesh.

“CDP membantu perusahaan telko dengan penyerapan set data yang sangat besar secara real-time, sekaligus menciptakan alat yang tepat untuk memungkinkan analisis sejumlah skenario pencegahan penipuan,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar