Indosat (ISAT) Sebut Alasan Jual Data Center Bukan karena Faktor Uang

 




JAKARTA, KOMPAS  — Operator telekomunikasi seluler ramai-ramai melepas aset fasilitas pusat data. Aksi korporasi ini tidak lantas membuat industri pusat data di Indonesia meredup, tetapi justru mengoptimalkannya.

Operator telekomunikasi seluler yang belakangan memutuskan melepas aset fasilitas pusat data adalah PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison) dan PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren).

Pada Desember 2023, melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indosat Ooredoo Hutchison melepas sisa aset fasilitas pusat data kepada PT Starone Mitra Telekomunikasi atau juga dikenal BDx Indonesia. Total nilai transaksi yang diperoleh oleh Indosat Ooredoo Hutchison berkisar Rp 2,625 triliun.

BDx Indonesia yang bergerak di pusat data adalah perusahaan joint venture antara PT Aplikanusa Lintasarta, anak usaha Indosat Ooredoo Hutchison, dan BDx Asia Data Center Holdings Pte Ltd.

Keputusan manajemen Indosat Ooredoo Hutchison melepas sisa aset pusat data telah mempertimbangkan agar BDx Indonesia dapat lebih optimal mengembangkan bisnis pusat data di seluruh Indonesia.



Sekitar 18 bulan sebelumnya, Indosat Ooredoo Hutchison melepas sebagian aset pusat datanya ke BDx Indonesia. Keseluruhan aset pusat data Indosat Ooredoo Hutchison yang dilepas tersebut berada di sekitar 40 lokasi di Indonesia.

Setelah selesai pelepasan seluruh aset pusat data ke BDx Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison tetap dapat melakukan penyewaan kembali (leaseback) untuk mendukung layanan ke segmen bisnis ke bisnis (B2B). President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, dalam konferensi pers Selasa (9/1/2024), di Jakarta, mengatakan, layanan bisnis saat ini sudah mengarah ke digital baik dari kalangan UMKM maupun perusahaan skala besar. Layanan digital biasanya dijalankan dengan menggunakan sistem komputasi awan atau cloud.

”Kami pun sedang berevolusi dari perusahaan telekomunikasi (telco) menjadi perusahaan teknologi (techco). Evolusi ini menuntut kami menyediakan solusi dan inovasi berkelanjutan. Keputusan kami melepas seluruh aset pusat data sudah direncanakan sejak enam tahun lalu dan kami mencari mitra yang tepat,” ujarnya.

Kami pun sedang berevolusi dari perusahaan telekomunikasi (telco) menjadi perusahaan teknologi (techco). (Vikram Sinha)

Chief Executive Officer BDx Mayang Srivastava mengatakan, kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison bertujuan untuk mendukung ekonomi digital di Indonesia. Selain menerima aset pusat data milk Indosat Ooredoo Hutchison, BDx Indonesia juga akan memiliki fasilitas baru yang sedang dibangun di kawasan seputar Jakarta dengan kapasitas 15 megawatt (MW). Fasilitas baru ini siap beroperasi pada triwulan IV-2024.

Selain itu, BDx Indonesia juga akan memiliki pusat data hyperscale sebesar 100 MW di Suryacipta, Jakarta Timur. Semua fasilitas pusat data independen atau carrier-neutral edge site milik perusahaan akan ada di semua pulau di Indonesia. Pembangunannya menerapkan desain ramah lingkungan.

Sementara Smartfren melalui anak usahanya, PT Smartel, menjual aset pusat data senilai Rp 544,20 miliar kepada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, yang juga masih bagian dari Sinarmas. Transaksi di dalam grup Sinarmas bertujuan membuat kinerja dan pelayanan Smartfren lebih efisien.

Dalam prospektus, Sekretaris Perusahaan Smartfren James Wewengkang mengatakan, pengelolaan properti dan infrastruktur untuk bisnis pusat data bukan bagian dari bisnis inti Smartfren. Smartfren perlu memiliki keunggulan dalam hal biaya sehingga bisa menawarkan jasa yang kompetitif.

Pada tahun 2022, operator telekomunikasi seluler XL Axiata juga melepas bisnis pusat data ke PT PDG Data Centers yang masih merupakan anak usaha. XL Axiata masih mempertahankan kepemilikan saham.

Baca juga : Pergerakan Pasar Pusat Data Mengarah ke Negara Berkembang

Keahlian berbeda

Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma, saat dihubungi terpisah, berpendapat, rata-rata operator telekomunikasi seluler tengah fokus ke bisnis solusi teknologi. Jika bisnis ini mau dikuatkan agar mampu melayani konsumen, bisnis hulu yang berupa infrastruktur dilepas ke pihak lain.

”Mengembangkan bisnis pusat data memerlukan keahlian yang berbeda dengan bisnis telekomunikasi,” ujarnya.


Menurut Hendra, bisnis pusat data di Indonesia tetap akan kemilau. Sebab, penetrasi pengguna internet di Indonesia sudah menyentuh 70 persen dari total populasi penduduk. Pada akhir Desember 2023, kapasitas pusat data di antara perusahaan pusat data anggota IDPRO sudah mencapai 300 MW. Kapasitas ini diyakini lebih tinggi karena ada perusahaan teknologi yang bangun sendiri, seperti AWS dan Microsoft.

Pada 2024, di antara perusahaan anggota IDPRO masih akan menambah 300 MW lagi. Hendra memperkirakan, tahun 2030 kapasitas pusat data di Indonesia bisa menyentuh sampai di atas 2 gigawatt (GW).

”Keputusan pemerintah Singapura untuk melarang pembangunan fasilitas pusat data berkapasitas besar di negaranya akan mendorong investasi di negara-negara sekitar. Tantangan Indonesia cuma perizinan yang masih dianggap investor kalah mudah dengan negara ASEAN lainnya,” ujarnya.

Menurut laporan ”2023 Global Data Center Market Comparison” yang dirilis Cushman and Wakefield, pasar pusat data di kawasan Asia Pasifik secara umum mengalami peningkatan minat, seperti Bangkok, Johor, Ho Chi Minh, dan Manila.

Sumber : https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2024/01/09/pelepasan-aset-bisnis-pusat-data-untuk-optimalkan-layanan




Posting Komentar

0 Komentar