• Breaking News

    Lakukan Digitalisasi Semua Layanan, Optimis 2020 Kota Malang Benar-Benar jadi Smart City

    Kota Malang menjadi salah satu kota yang disebut-sebut sebagai kota pintar atau lebih beken dikenal dengan istilah Smart City.

    Tapi sayangnya, belum semua layanan publik terintegrasi dengan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari.

    Kondisi itu pun menimbulkan banyak pertanyaan publik. Benarkah Kota Malang sudah siap sebagai Smart City? Atau embel-embel sebagai kota cerdas hanya sebatas modal jualan dari Pemerintah Kota Malang saja?

    Menanggapi itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan saat ini Kota Malang belum sepenuhnya menjadi Smart City.

    Karena saat ini, masih banyak persiapan yang baru dijalankan untuk benar-benar memberi layanan publik secara lebih efisien sebagaimana moto Smart City.

    "Salah satunya adalah upaya percepatan digitalisasi setiap layanan publik di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD)," katanya belum lama ini.

    Pria berkacamata itu menyampaikan, satu OPD setidaknya membutuhkan waktu tiga bulan untuk melakukan digitalisasi setiap layanan yang ada.

    Saat ini, seluruh OPD pun terus dikejar melakukan proses percepatan. Sehingga pada 2020 mendatang seluruh layanan sudah dapat diakses melalui smartphone atau gadget.

    "Saat ini yang datanya manual harus dimasukkan ke satu database untuk kemudian bisa dimanfaatkan," jelasnya.

    Lebih jauh dia menyampaikan, selama ini Pemkot Malang sudah memaksimalkan keberadaan website milik pemerintah daerah melalui masing-masing OPD.

    Namun memang belum berjalan maksimal lantaran tak semua masyarakat mau mengakses keberadaan website yang ada.

    Ke depan akan lebih dimaksimalkan lagi melalui sebuah aplikasi yang sudah dibuat oleh pakar yang memang berasal dari orang-orang kreatif Kota Malang sendiri.

    Bukan hanya itu, pemasangan CCTV yang terintegrasi pada Ngalam Command Center juga akan segera direalisasikan.

    Semuanya akan terkoneksi dengan layanan kesehatan hingga kondisi terkini jalanan.

    Sehingga masyarakat dapat memantau lebih mudah. Termasuk penanganan berbagai kasus, salah satunya kecelakaan dapat dilaksanakan lebih cepat.

    "Dan semuanya akan lebih terbuka. E-government dan e-budgeting bisa dilaksanakan di 2020," paparnya.

    Sutiaji juga menyebut jika upaya menuju Smart City itu membutuhkan peran serta dari banyak kalangan.

    Utamanya akademisi untuk membantu menyempurnakan sederet program dan aplikasi yang akan dimanfaatkan ke depan.

    Tujuannya, masyarakat dapat lebih nyaman memantau setiap proses pembangunan yang dilaksanakan.


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad