Dashboard Smart City

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Smart City

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Smart City

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Smart City

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Smart City

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 17 Januari 2019

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0


Kementerian Perindustrian akan meluncurkan indikator penilaian untuk tingkat kesiapan industri di Indonesia dalam menerapkan teknologi era industri 4.0 atau disebut Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Metode asesmen INDI 4.0 ini merupakan salah satu tahap implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“INDI 4.0 merupakan sebuah indeks acuan yang digunakan oleh industri dan pemerintah untuk mengukur tingkat kesiapan menuju industri 4.0.,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Kamis (17/1).

Ngakan menjelaskan, hasil pengukuran INDI 4.0 juga akan menjadi patokan dalam mengidentifikasi tantangan serta menentukan strategi dan kebijakan pemerintah guna mendorong sektor manufaktur bertransformasi menuju industri 4.0.

“Dalam indeks tersebut masing-masing industri melakukan penilaian mandiri (self-assessment) terhadap kemampuan mereka di bidang-bidang terkait revolusi industri 4.0 dan ini adalah program prioritas kami di tahun 2019,” paparnya.

Adapun lima pilar yang akan diukur di dalam INDI 4.0, yaitu manajemen dan organisasi (management and organization), orang dan budaya (people and culture), produk dan layanan (product and services), teknologi (technology), serta operasi pabrik (factory operation).

Kemudian dari lima pilar tersebut, dirinci lagi menjadi 17 bidang, yakni strategi dan kepemimpinan, investasi menuju industri 4.0, kebijakan inovasi, budaya, keterbukaan terhadap perubahan, pengembangan kompetensi, kustomisasi produk, layanan berbasis data, produk cerdas, serta keamanan cyber.

Selanjutnya, konektivitas, mesin cerdas, digitalisasi, sistem perawatan cerdas, proses yang otonom, rantai pasok dan logistik cerdas, penyimpanan, serta sharing data. “Dari 17 bidang inilah yang dijadikan acuan untuk mengukur kesiapan industri di Indonesia untuk bertransformasi menuju Industri 4.0,” ujar Ngakan.

Semetara itu, mengenai rentang skor penilaian, yang digunakan di dalam INDI 4.0 adalah dari level 0 sampai level 4. Level 0 artinya industri “belum siap” bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1: industri masih pada tahap “kesiapan awal”, level 2: industri pada tahap “kesiapan sedang”, level 3: industri sudah pada tahap “kesiapan matang” bertransformasi ke industri 4.0, dan level 4: industri “sudah menerapkan” sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya.

Ngakan menyampaikan, pada acara peluncuran INDI 4.0 nanti, dirangkai dengan kegiatan konferensi, pameran, dan penghargaan yang akan dilaksanakan tanggal 20-21 Maret 2019 di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Kemenperin dengan Asosiasi Cloud Computing Indonesia, yang rencananya dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari pihak pemerintah, pelaku dan asosiasi industri, serta akademisi.

Ajang pengenalan teknologi

Ngakan mengemukakan, pada kesempatan itu, akan ada 9 track conferences yang membahas 5 pilar dari INDI 4.0. “Kami berharap dengan adanya pameran dan conferences tersebut, para penyedia teknologi ataupun solusi terkait dengan industri 4.0 bisa mengenalkan produk dan solusinya agar bisa dipakai oleh para pelaku industri, sehingga memperkuat ekosistem industri 4.0 di Indonesia,” ujarnya.

Dalam rangkaian acara tersebut, juga akan diberikanpenghargaan kepada para pelaku industri yang sudah ataupun sedang menuju era industri 4.0, dimana penilaiannya menggunakan framework dari INDI 4.0.

“Bagi para pelaku industri yang telah atau sedang menuju era industri 4.0, kami sangat mendorong untuk ikut serta dalam awarding ini supaya kami bisa memetakan sampai dimana implementasi industri 4.0 di Indonesia, dan kita bisa mendapatkan siapa saja yang bisa menjadi role model bagi implementai industri 4.0 di Indonesia,”tuturnya.

Ngakan berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi platform yang ideal bagi para pemimpin perusahaan dan influencer industri untuk memahami dan mendiskusikan bersama tren perkembangan teknologi saat ini dan masa depan, sehingga bisa menjadi informasi untuk mendukung pengambilan keputusan perusahaan dalam melakukan transformasi digital dan juga menuju ke era industri 4.0.

“Target peserta dari acara ini adalah C-level atau tingkat eksekutif dari perusahaan yang akan atau sedang melakukan transformasi digital ataupun yang sedang menuju ke era industri 4.0,” terangnya.

Sementara itu, Alex Budiyanto selaku Ketua Umum Asosiasi Cloud Computing Indonesia menyambut baik terhadapkegiatan yang diinisiasi oleh Kemenperin ini, karenaakan membantu perusahaan untuk lebih memahami mengenai teknologi yang ada saat ini ataupun yang akan menjadi tren kedepan.

Dia meyakini, upaya itu akan membantu perusahaan untuk memilih dan merencanakan teknologi yang tepat, efektif dan efisien dalam menunjang proses bisnis perusahaan sehingga bisa bersaing di era industri 4.0.

“Cloud Computing akan menjadi infrastruktur utama dalam transformasi digital dan industri 4.0, banyak teknologi pendukung industri 4.0 ada diatas layanan Cloud Computing. Kami sangat berterima kasih kepada Kemenperin karena telah mempercayai Asosiasi Cloud Computing Indonesia sebagai mitra dalam pelaksanaan acara ini, semoga content dan rangkaian acara yang kami susun bersama ini bisa membawa manfaat yang besar untuk bisa segera mewujudkan program Making Indonesia 4.0 di Indonesia,” ungkapnya.

Making Indonesia 4.0 dapat diwujudkan dengan komitmen dan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan peluncuran INDI 4.0, diharapkan industri di Indonesia bisa tumbuh lebih kuat dan berdaya saing global di era digital. Informasi lebih lanjut mengenai event ini, akan dimuat di laman https://www.indi4.id/.

Sumber:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/20129/Menilai-Kemampuan-Industri-di-Era-Digital,-Kemenperin-Siap-Luncurkan-INDI-4.0

Kominfo Siapkan Rp 109 M untuk Pelatihan 20 Ribu Digital Talent


TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengalihkan anggaran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp109,3 miliar untuk pelatihan 20.000 talenta digital di Indonesia. Artinya, anggaran untuk mencetak seorang talenta digital rata-rata Rp5,5 juta.

Permohonan pergeseran anggaran PNBP antar program telah disetujui oleh Komisi I DPR RI. "Kita butuh digital talent. Uangnya tidak masalah. Administrasi perlu persetujuan Komisi 1 DPR RI," ujar Rudiantara di ruang rapat Komisi I DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu 16 Januari 2019.

Kominfo menggeser program pengelolaan Sumber Daya dan Perangkat Pos (Ditjen SDPPI) sebesar Rp153,4 miliar dan program penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) sebesar Rp30,8 miliar.

Dari kedua program tersebut, Kominfo mengalokasikan Rp109 miliar untuk pengembangan digital talent dan sertifikasi.

"Pergeseran karena ada refocusing. Tadinya litbang hanya dapat Rp263 miliar. Karena kita bangun dan siapkan digital talent butuh tambahan Rp100 miliar," kata Rudiantara.

Sisa anggaran dari pergeseran anggaran tersebut dialokasikan sebesar Rp75 miliar untuk Ditjen Informasi Komunikasi Publik (IKP).

Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu.

"Mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pemilu. Kerja sama KPU dan Bawaslu sosialisasi dari apa yg akan dilakukan. Kami mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pemilu," kata Rudiantara.

Sumber:
https://bisnis.tempo.co/read/1165740/kominfo-siapkan-rp-109-m-untuk-pelatihan-20-ribu-digital-talent/full&view=ok

Rabu, 16 Januari 2019

Dipacu Program Smart City

Surabaya - Gencarnya pengembangan sistem smart city oleh pemerintah daerah bakal mendorong pertumbuhan industri teknologi informasi (TI) di Jawa Timur. Tahun ini industri TI diprediksi tumbuh 15-20 persen. Kartu Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Jatim Okky Tri Hutomo menjelaskan, selama ini penyumbang terbesar penjualan TI seperti komputer, laptop, hingga software berasal dari sektor pemerintahan. Kontribusinya 60-70 persen.

Sisanya diperoleh dari ritel atau end user. Kami yakin nanti setelah pemilu pemerintah akan lebih agresif memanfaatkan teknologi sebagai program kerja. Itu seiring dengan revolusi industri 4.0 yang sangat kental dengan perangkat teknologi. " ujarnya kemarin (15/1).

Okky mengatakan, beberapa wilayah di Jatim cukup potensial untuk meningkatkan penjualan TI. Antara lain, Kediri, Madiun, Ponorogo, Tuban, dan Lamongan. Daerah-daerah tersebut kini menjajaki sistem e-government sehingga berpeluang mengerek pendapatan bisnis TI."Kalau seperti Jember, Malang, atau Banyuwangi, sudah lebih dulu mengembangkan layanan-layanan yang berbasis teknologi," lanjutnya.

Selain itu, perkembangan industri kreatif tanah air yang pesat diyakini akan membawa dampak positif. Manurut Okky, pasti banyak generasi milenial di dunia kreatif yang membutuhkan komputer, laptop, atau sistem tertentu demi menunjang pekerjaan mereka.

Sumber : JawaPos 
Tanggal : 16 Januari 2019

Selasa, 15 Januari 2019

A comprehensive approach of integrating technology in the design of the city

Smartcity Privacy

Minggu, 13 Januari 2019

Soroti Polemik Hi-Tech Mall Surabaya, APTIKNAS Jatim Siap Berkontribusi


TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hi-Tech Mall Surabaya telah menjadi pembicaraan hangat dalam minggu ini.

Pasalnya, mall yang telah menjadi ikon Kota Surabaya sebagai mall pusat IT di Indonesia Timur tersebut harus segera dikosongkan per Maret 2019.

Pengelolaan yang berpolemik antara PT Sasana Boga dengan Pemerintah Kota Surabaya membuat peruntukan gedung sebagai pusat perdagangan IT terbesar dan terlengkap di Indonesia Timur dengan nama Hi-Tech Mall harus berakhir Maret 2019, karena tidak diperpanjangnya kontrak pengelolaan gedung.

Menurut Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) Jawa Timur, Okky Tri Hutomo, kerugiannya cukup signifikan.

Dia mengatakan, kini tempat tersebut cenderung sepi karena sudah tersebar berita pengosongan.

Padahal dia mengatakan, harapannya para pedagang ingin tetap bertahan di sana.

Ia juga menyayangkan mengenai polemik pengelolaan Hi-Tech Mall Surabaya yang dinilai merugikan para pedagang dan konsumen.

"Mereka ini kan bukan hanya pedagang kecil, bukan hanya reseller, mereka ini banyak juga para pedagang-pedagang besar, dealer, service center hingga distributor," katanya melalui keterangan resminya, Jumat (11/1/2019).

Ia melanjutkan, hal tersebut mungkin yang sepertinya tidak atau belum dipertimbangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

"Jika mereka harus pindah dari Hi-Tech Mall Surabaya, maka imbasnya sangat besar di perjalanan bisnis IT, di Kota Surabaya khususnya," lanjutnya.

Okky menjelaskan, informasi terbaru, dalam pengelolaan pedagang bekas Hi-Tech Mall Surabaya direncanakan akan dipindah ke dua lokasi, yakni Kaza dan ITC Mall Surabaya.

Menurutnya, jika pedagang keluar dari Hi-Tech Mall Surabaya, pertimbangannya adalah ekosistem bisnis IT yang sudah terbentuk akan terjadi masalah.

Dia juga mengatakan jika konsumen atau penikmat produk IT atau komputer dari luar Kota Surabaya mengenalnya adalah Hi-Tech Mall.

"Bukan jadi rahasia lagi, jika transaksi bisnis yang datang ke Hi-Tech Mall itu bukan orang Surabaya saja, tapi lebih banyak orang dari luar Surabaya, baik kota-kota di Jawa Timur, ataupun luar Jawa Timur, Mereka (pedagang) akan memulai dari nol lagi jika pindah ke tempat yang baru," jelasnya.

Sedangkan Bendahara DPD APTIKNAS, Supardjo, yang juga membuka usahanya di Hi-Tech Mall Surabaya menambahkan, pihaknya akan memulai dari awal lagi jika pindah ke tempat yang baru.

"Saya sangat berharap agar ada kesempatan mediasi untuk mencari solusi terbaik, saya juga siap untuk turut terlibat, karena saya dan teman-teman sudah berusaha di Hi-Tech Mall itu telah lama sekali, serta berkeinginan tetap berusaha di sini," ujarnya.

Sementara Ketua Umum DPP APTIKNAS, Soegiharto Santoso alias Hoky menyatakan, isu polemik Hi-Tech Mall Surabaya tersebut telah menjadi isu nasional dan dinilai sangat memprihatinkan.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, upaya mediasi dengan Pemerintah Kota Surabaya, termasuk dengan wakil rakyat bisa menjadi solusi yang baik.

Serta, APTIKNAS yang anggotanya juga banyak menjalankan bisnis di Hi-Tech Mall Surabaya siap membantu dan mendukung agar iklim bisnis IT di Hi-Tech Mall Surabaya kembali kondusif dan tumbuh kembali.

"Contohnya mungkin pengelolaan Hi-Tech Mall Surabaya bisa dilakukan oleh perusahaan daerah, semisal PD Pasar Surabaya, sehingga pemerintah kota bisa mendapatkan pemasukan dari para pelaku bisnis IT di Hi-Tech Mall Surabaya tanpa perlu berpindah ke lokasi yang lain," tuturnya.

Sumber:
http://jatim.tribunnews.com/amp/2019/01/13/soroti-polemik-hi-tech-mall-surabaya-aptiknas-jatim-siap-berkontribusi?page=all

Kamis, 10 Januari 2019

Ini Analisa McKinsey Soal Peran Penting Industri 4.0 Untuk Ekonomi Nasional


Merdeka.com - McKinsey and Company merilis hasil penelitian mengenai penerapan industri 4.0. Dalam penelitiannya, lembaga tersebut menyebut sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan bahwa Industri 4.0 akan berdampak signifikan pada berbagai industri di Indonesia.

McKinsey and Company Partner and Leader, Southeast Asia, Operations Practice, Vishal Agarwal, mengatakan digitalisasi bisa mendorong pendapatan sebanyak USD 120 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada 2025. Sekitar seperempat dari angka ini, atau senilai USD 34 miliar, akan dihasilkan oleh sektor manufaktur.

"Untuk itu kami menempatkan sektor ini di posisi terdepan. Mengingat bahwa manufaktur menyumbang 18 persen ke PDB, sangatlah penting untuk mempercepat penerapan teknologi digital terbaru pada sektor ini," ujar Vishal di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (10/12).

Industri 4.0 adalah realitas baru terkait disrupsi yang terjadi di berbagai industri di dunia. Industri 4.0 berhubungan dengan penerapan teknologi terbaru seperti advanced analytics, Internet of Things (IoT), machine learning, dan otomasi dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan respon terhadap permintaan konsumen yang berubah dengan sangat cepat.

Tahun ini, Indonesia mencapai tonggak sejarah penting dalam perjalanan Industri 4.0 dengan Presiden Joko Widodo meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan tersebut berfokus pada percepatan penumbuhan sektor manufaktur dengan cara memperbaiki jalur distribusi, mengembangkan zona industri, penerapan standard yang keberlanjutan dan mendorong UMKM.

Berdasarkan survei McKinsey Company 79 persen pemimpin bisnis di negara-negara berbasis manufaktur seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam pada umumnya bersifat optimistis terhadap prospek Industri 4.0. Negara-negara tersebut sangat ingin menerapkan proyek-proyek percontohan untuk berbagai teknologi.

"Walau kami telah melihat bahwa berbagai perusahaan sudah sadar akan besarnya peluang Industri 4.0, hanya 13 persen perusahaan-perusahaan di ASEAN yang sudah menerapkan teknologi Industri 4.0," jelasnya.

"Terlebih lagi, walaupun mereka antusias terhadap manufaktur secara digital hanya sedikit perusahaan yang telah mencapai potensi tertinggi dan malah terjebak dalam tahap percontohan, atau pilot trap di mana aktivitas sudah berjalan namun mereka tidak merasakan dampak berarti pada laba," sambung Vishal.

Vishal menambahkan, 78 persen dari perusahaan-perusahaan yang telah disurvei tidak maju lebih jauh dari tahap percontohan. Sekitar 30 persen dari responden bahkan belum mencoba untuk mengembangkan proyek setelah satu atau dua tahun sehabis tahap percontohan.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, pelaku usaha dalam negeri kini semakin sadar dengan revolusi industri 4.0. Khusus untuk sektor manufaktur, Menteri Bambang memprediksi, akan ada 5 bidang industri yang bisa menjadi pemain utama di pasar dalam negeri. Kelima bidang itu antara lain sektor otomotif, kimia, elektronik, food and beverage (makanan dan minuman), serta tekstil dan busana.

Sumber:
https://www.merdeka.com/uang/ini-analisa-mckinsey-soal-peran-penting-industri-40-untuk-ekonomi-nasional.html

Ini 6 Hambatan Pengembangan Industri 4.0 di Indonesia


Merdeka.com - Pemerintah Jokowi-JK telah meluncurkan peta jalan atau Making Industri 4.0 beberapa waktu lalu, yang berfokus pada percepatan penumbuhan sektor manufaktur dengan cara memperbaiki jalur distribusi. Meski demikian sampai kini peta jalan tersebut masih berjalan lambat.

McKinsey and Company Partner and Leader, Southeast Asia, Operations practice, Vishal Agarwal mengatakan, pihaknya menemukan enam faktor yang menyebabkan pelannya penerapan Industri 4.0 pada perusahaan-perusahaan yang sedang dalam tahap implementasi.

Ke enam faktor tersebut, pertama kesulitan dalam merancang dengan jelas peta jalan untuk bertumbuh pada skala besar, kedua data-data yang tersimpan secara terpisah dan tiadanya satu platform yang sesuai untuk melakukan integrasi. Faktor ketiga kekurangan orang-orang dengan kemampuan digital untuk menjalankan peta jalan yang telah dirancang.

"Kemudian juga tantangan tantangan dalam menemukan dan memprioritaskan proyek percontohan dengan nilai bisnis yang jelas, kelima kekurangan pengetahuan dan sumber daya untuk mengembangkan proyek dan infrastruktur. Serta keenam kekhawatiran terhadap resiko keamanan cyber," ujar Agarwal di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (10/12).

Ke enam tantangan ini menyebabkan perusahaan yang sebelumnya bersemangat menerapkan industri 4.0 kemudian lesu. Selain itu, tantangan lain yang membuat perusahaan enggan menerapkan industri 4.0 adalah hanya sedikit keuntungan yang diperoleh dari penerapannya.

"Alasan terjebaknya perusahaan di tahap percontohan (pilot trap) sama dengan alasan-alasan yang digunakan perusahaan yang menghindari implementasi industri 4.0. Alasan-alasan utamanya adalah perusahaan tersebut melihat bahwa keuntungan jangka pendek," jelasnya.

"Sehingga tidak sepadan dengan usaha yang harus dikeluarkan sebuah bisnis untuk melakukan transformasi digital atau kesulitan dalam menggabungkan sistem teknologi informasi (TI), dan kurangnya koordinasi antara unit-unit bisnis seperti Tl, pemasaran dan penjualan," tutup Agarwal.

Sumber:
https://www.merdeka.com/uang/ini-6-hambatan-pengembangan-industri-40-di-indonesia.html

Prediksi Teknologi 2019 by Tirto.id

Kota Surabaya Raih Penilaian Tertinggi Indeks Kota Cerdas


Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi membanggakan. Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ini berhasil meraih penghargaan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018 yang diselenggarakan oleh salah satu surat kabar nasional di Indonesia.

Kota Pahlawan berhasil meraih nilai tertinggi untuk kategori Kota Metropolitan. Penghargaan ini, secara langsung diterima oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019 kemarin.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M. Fikser mengatakan, pengahargaan ini diberikan kepada kota-kota yang dinilai berhasil menerapkan konsep kota cerdas atau smart city.

“Penghargaan itu hari ini diterima langsung oleh ibu (Wali Kota Risma) di Jakarta,” kata Fikser saat dikonfirmasi, Kamis, 10 Januari 2019.

Dalam IKCI 2018, ada 93 dari 98 kota se-Indonesia yang termasuk dalam perhitungan indeks kota cerdas. Sebanyak 93 kota itu, kemudian dikelompokkan dalam empat kategori.

Pertama, kategori Kota Metropolitan dengan penduduk minimal 1 juta jiwa. Kedua, Kota besar dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu jiwa, kurang dari 1 juta jiwa.

Ketiga, Kota Sedang, dengan jumlah penduduk lebih dari 100 ribu jiwa hingga 500 ribu jiwa. Dan Keempat, Kota Kecil, dengan jumlah penduduk paling banyak 100 ribu jiwa.

Fikser menyampaikan, ini adalah penghargaan kedua berturut-turut yang diterima Kota Surabaya, setelah sebelumnya berhasil meraih IKCI yang pertama pada tahun 2015.

Tahun ini, Kota Surabaya berhasil meraih peringkat teratas dengan nilai 67,03. Kemudian disusul Kota Semarang dengan nilai 63,69, dan pada urutan ketiga diraih Kota Tangerang Selatan dengan nilai 61,68.

"Indeks penilaian ini berfokus pada metode lingkaran kota cerdas milik Boyd Cohen. Enam indikator penilaian itu terdiri dari pemerintahan, ekonomi, mobilitas, lingkungan, kualitas hidup, dan masyarakat,” ujarnya.

Penyelenggara penghargaan itu merilis daftar kota yang berhasil memperoleh penghargaan Indeks Kota Cerdas 2018.

Untuk kategori Kota Metropolitan, Kota Surabaya berada di urutan pertama, disusul Semarang dan Tangerang Selatan. Sementara untuk kategori Kota Besar, diraih Kota Denpasar pada urutan pertama, disusul Surakarta dan Malang.

Untuk kategori Kota Sedang, berhasil diraih Kota Manado, disusul Salatiga dan Yogyakarta. Dan terakhir, kategori Kota Kecil, diraih Kota Padang Panjang, kemudian disusul Sungai Penuh dan Solok.

Sumber:
https://www.ngopibareng.id/timeline/kota-surabaya-raih-penilaian-tertinggi-indeks-kota-cerdas-1478508