• Breaking News

    Jadi Nominator Proyek CRIC Uni Eropa dan UCLG ASPAC, Wali Kota Samarinda Presentasi Manajemen Kualitas Udara


    Kaltimtoday.co, Jakarta – Kota Samarinda, Kalimantan Timur menjadi nominator dalam proyek Climate Rescience and Inclusive Cities (CRIC) untuk wilayah Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik yang diselenggarakan Uni Eropa (EU) berkolaborasi bersama Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah se-Asia Pasifik (United Cities and Local Goverments Asia Pacific atau UCLG ASPAC.
    Proyek ini didanai oleh Uni Eropa dan diimplementasikan oleh UCLG ASPAC, Pilot 4 Dev, ACR+, ECOLISE, AIILSG dan Universitas Paris-Est Marne-la-Vallee. Ini adalah proyek 5 tahunan yang akan memberikan kontribusi pada pembangunan perkotaan terpadu yang berkelanjutan, tata pemerintahan yang baik, serta adaptasi iklim/mitigasi.
    Seusai peluncuran proyek yang didanai Uni Eropa sebesar 3,2 juta Euro (sekitar Rp 49 miliar), Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang memaparkan tinjauan manajemen kualitas udara Samarinda di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Kamis (30/01/2020).
    “Dengan emisi yang dihasilkan dari berbagai sektor, Pemkot Samarinda masih berupaya untuk menjaga kualitas udara, terbukti melalui indeks kualitas udara yang mencapai 91,18 yaitu kategori baik. Upaya-upaya dalam menjaga kualitas udara ditempuh dengan berbagai inisiatif, terlebih lagi dalam menyongsong Kaltim sebagai Ibu kota Negara dimana Samarinda sebagai daerah penyangga, sehingga harus bersiap sejak sekarang,” ungkap Jaang yang dalam kesempatan itu hadir bersama Asisten I Sekretariat Daerah Tejo Sutarnoto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nurrahmani dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aji Syarif Hidayatullah.
    Berbagai inisiatif yang dilakukan, sebut Syaharie Jaang yakni Sedekah Lingkungan, Kesuma Cinta Plus dan Si PeSuT (akSi Pegawai Sumbang Tanaman).
    Samarinda menjadi nominator dalam proyek CRIC untuk wilayah Indonesia dan kawasan Asia Pasifik
    Sedekah lingkungan adalah program penggerakan partisipasi sektor swasta. Ketika pihak swasta ingin mendapatkan izin lingkungan, salah satu syaratnya adalah menanam pohon di area bisnis dan menggunakan kompos. Terdapat 1.595 pohon ditanam dengan menggunakan kompos oleh 55 pihak swasta pada 2019.
    Kemudian Kesuma Cinta Plus adalah program penggerakkan partisipasi masyarakat lewat pasangan yang bermaksud melaksanakan pernikahan dengan cara menyumbangkan satu pohon hias (bunga/tanaman hias) beserta pupuk organik (kompos) kepada Pemkot Samarinda.
    Begitu pun Si PeSuT merupakan kegiatan menyumbangkan tanaman hias, tanaman peneduh dan atau tanaman produktif oleh pegawai negeri. Ini untuk meningkatkan partisipasi dan kepedulian bahwa 1 pohon bisa menghasilkan oksigen yang cukup untuk 2 orang.
    Syaharie Jaang hadir bersama Asisten I Sekretariat Daerah Tejo Sutarnoto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nurrahmani dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aji Syarif Hidayatullah.
    “Dalam rangka menjaga kualitas udara yang responsif dan berkesinambungan, Pemkot Samarinda akan mengembangkan Internet of Things (IoT) berupa sistem monitoring yang terintegrasi dengan Command Center, sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan dan peringatan dini apabila terjadi masalah dengan kualitas udara, sehingga kami perlu dukungan dalam hal pembuatan sensor udara yang dipasang pada tiang lampu jalan di beberapa area yang menghasilkan emisi terbesar, antara lain di pusat kota, daerah perumahan/pemukiman dan daerah pertanian. Dari pengembangan IoT, maka kami dapat menjaga kualitas udara kota setiap saat,” ucap Jaang semangat.

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC Dr Bernadia Irawati Tjandradewi mengemukakan proyek CRIC merupakan inisiatif jangka panjang yang akan membantu kota-kota yang berkomitmen tinggi untuk dapat bertindak mengatasi kejadian-kejadian berkaitan dengan perubahan iklim.
    Dia menegaskan, projek CRIC ini tidak hanya sekadar menambah jejaring antar kota dan peningkatan kapasitas SDM di lingkungan Pemerintah Daerah, namun juga membantu pengembangan kota berketahanan secara berkelanjutan.
    Dia menyebut, kota yang berketahanan harus mampu menunjukkan kesiagaan atas setiap masalah, musibah dan bencana alam, antara lain transportasi, tata kelola sampah maupun limbah, saluran air, kawasan pemukiman, termasuk epidemik (wabah) dari penyakit akibat perubahan iklim.
    Direktorat Jenderal Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Ruanda Sugardiman menyampaikan, kegiatan proyek baru ini berdampak sangat signifikan dan membantu capaian Indonesia untuk menurunkan emisi dalam rangka pemenuhan National Determined Contribution.
    Dia menyebut pula bahwa, Indonesia mampu menurunkan emisi sebesar 29 persen dari upaya dan dananya sendiri dan bisa meningkat hinga mencapai 41 persen apabila ada dukungan dari internasional.
    Acara ini dihadiri lebih dari 80 perwakilan dari 20 Pemerintah Daerah di Indonesia, Kementerian, Badan Pembangunan Daerah tingkat lokal dan nasional, organisasi mitra, institusi akademik dan media.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad